Merayakan Hari Ibu Dalam Kebaktian? Sebuah Pertanyaan tentang Solidaritas
Hari ini, seluruh dunia merayakan hari ibu. Di gereja saya, kami juga merayakannya dengan cara memberikan suvenir kepada para ibu. Pada saat kebaktian, liturgis akan meminta para ibu untuk berdiri. Kemudian, anak-anak Sekolah Minggu yang manis akan menghampiri satu per satu untuk menyerahkan suvenir. Tradisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun di gereja saya. Tentu saja, saya mendukung segala niat luhur untuk merayakan peran ibu di hari yang istimewa ini. Saya pun memberikan tanda cinta kepada mami saya pada hari ibu sedunia.
Namun, ditinjau dari aspek pastoral ibadah, apakah acara ini tidak menjadi "sandungan" bagi para wanita yang sulit memiliki anak? Betapa pesan penghargaan terhadap para ibu yang telah melahirkan dan membesarkan anak mereka akan berbeda di telinga seorang wanita yang bertahun-tahun menantikan anak tapi tidak pernah "dianugerahi" satu pun. Saya membayangkan, seorang wanita yang setiap hari berdoa - tidak terhitung berapa kali dia marah, menangis, dan kecewa terhadap Tuhan karena sekian lama hidup tanpa kehadiran satu orangpun anak - menyaksikan para ibu lainnya yang lebih "beruntung" diberikan hadiah.
Seseorang mungkin memprotes saya: "Jim, itu salah wanita tersebut kalau sampai dia marah dan kecewa. Maksud kami kan baik dalam menyatakan penghargaan kepada kebanyakan ibu lainnya yang telah bersusah payah mengasuh anak-anak mereka." Persoalannya, pertanyaan saya adalah pertanyaan pastoral. Pertanyaan pastoral selalu dimulai dari apakah kita cukup peka terhadap mereka yang "lain", yang marginal, yang lebih "tidak beruntung"? Apakah kita cukup memberikan ruang di hati kita untuk memikirkan orang lain yang mungkin membaca dan menerima perayaan hari ibu sebagai "tamparan"?
Atau mari bayangkan kasus lain dimana seorang jemaat yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Mungkin karena sang ibu sudah terlebih dahulu wafat. Atau, ibunya menganiaya dia sejak kecil. Bagaimana mereka melihat acara perayaan hari ibu di atas?
Saya sendiri berpendapat bahwa lebih baik kita tidak terlalu berlebihan dalam merayakan hari ibu dalam kebaktian. Atau beberapa kalimat dari mimbar yang addressing kenyataan adanya ibu-ibu (dan anak) yang tidak beruntung, mungkin akan sangat membantu. Setidaknya, menunjukkan kepekaan kita terhadap mereka.
Lebih baik Sekolah Minggu mengajarkan murid-murid mereka untuk menyatakan cinta kepada ibu mereka di rumah masing-masing, ketimbang secara publik memberikan suvenir di dalam kebaktian.